Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

4.08.2015

"Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington" Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA akhir Maret 2015, umat Islam Indonesia dihebohkan oleh peristiwa pemblokiran sejumlah media on-line Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Setidaknya ada 19 situs Islam yang diblokir, seperti panjimas.com, muslimdaily.net, kiblat.net, dakwahmedia.net, hidayatullah.com, eramuslim.com, dan lain-lain. Seperti dilaporkan oleh www.harianterbit.com, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang juga Direktur Deradikalisasi Irfan Idris, menjelaskan, ada empat kriteria situs dinilai mengajarkan radikalisme.

“Ajakan propaganda mengafirkan pihak lain, tafkiri. Presiden dikafirkan, pemerintah dikafirkan, pemerintah thogut, pemerintah syirik,” katanya di Jakarta, Selasa (31/3/2015). Hal ini dikatakannya kepada perwakilan tujuh situs Islam yang mengajukan protes karena diblokir oleh Kementerian Kominfo Kemudian mendukung dan mengajak bergabung dengan ISIS atau Negara Islam. “Memaknai jihad dengan sempit,” katanya.

Selain itu ingin melakukan perubahan dengan cepat menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Ia mengatakan, pihaknya memiliki tim kecil untuk menganalisis situs-situs yang dinilai radikal.

Terkait dengan 19 situs yang diblokir oleh Kemenkominfo atas permintaan BNPT, menurut dia, pihaknya mempunyai bukti-bukti materiil terkait situs-situs yang dinilai radikal. “Ada buktinya, saya ada gambarannya,” katanya.

Ketika catatan ini dibuat, berbagai pihak sudah memberikan pandangannya tentang kasus tersebut. Catatan ini tidak akan memasuki wilayah itu. Biarlah BNPT  dan Kemkominfo mempertanggungjawabkan tindakannya, di dunia dan akhirat. Secara ringkas, dalam pandangan saya, jika situs-situs Islam itu melakukan tindakan yang salah – menurut ajaran Islam – mereka wajib diingatkan, diberitahukan kesalahannya, sebelum dijatuhi sanksi. Dengan pemberitahuan itu, maka situs-situs Islam itu bisa memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitasnya, sehingga semakin baik dan bermanfaat.

Jika situs-situs itu menyampaikan kebenaran Islam sebagai pelaksanaan kewajiban dakwah, dan kemudian diblokir, maka yang rugi justru pihak Kemkominfo dan BNPT sendiri. Sebab, mereka telah melakukan kezaliman dan menghalang-halangi orang menyampaikan dakwah yang jelas-jelas diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. (QS An-Nahl:125).

Tindakan itu akan menghadapkan mereka dengan Allah sendiri. Sementara para pengelola situs Islam itu justru diuntungkan, karena mereka mendapatkan pahala dan terbuka peluang besar doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Karena itu, kita mengimbau, agar semua pihak – khususnya yang muslim – segera menyelesaikan masalah ini dengan baik, melalui mekanisme musyawarah dengan hati yang ikhlas dan menekan perasaan dendam dan kebencian. Pada catatan kali ini, ada baiknya kita menelaah kembali pemikiran Samuel Huntington yang berisi saran-saran bagaimana seharusnya dunia Barat – khususnya AS – memandang dan memperlakukan Islam.

3.26.2015

“Kami Muak dan Bosan”.


Dahulu di abad-abad yang silam
Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian
Alamnya indah,gunung dan sungainya rukun berdampingan,
pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan
Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan
Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan
Dan kesetiakawanan
Semuanya ini fondasinya adalah
Keimanan
Tapi,
Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok,
Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu
Negeri penyogok dan koruptor,
Negeri yang banyak omong,
Penuh fitnah kotor
Begitu banyak pembohong
Tanpa malu mengaku berdemokrasi
Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi
Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji
Kini
Mobil, tanah, deposito, dinasti, relasi dan kepangkatan,
Politik ideologi dan kekuasaan disembah sebagai Tuhan
Ketika dominasi materi menggantikan tuhan
Kini
Negeri kita
penuh dengan wong edan, gendeng, dan sinting
Negeri padat, jelma, gelo, garelo, kurang ilo, manusia gila
kronis, motologis, secara klinis nyaris sempurna, infausta
Jika penjahat-penjahat ini
Dibawa didepan meja pengadilan
Apa betul mereka akan mendapat sebenar-benar hukuman
Atau sandiwara tipu-tipuan terus-terus diulang dimainkan
Divonis juga tapi diringan-ringankan
Bahkan berpuluh-puluh dibebaskan
Lantas yang berhasil mengelak dari pengadilan
Lari keluar negeri dibiarkan
Dan semuanya itu tergantung pada besar kecilnya uang sogokan
Di Republik Rakyat Cina,
Koruptor
Dipotong kepala
Di kerajaan arab saudi,
Koruptor
Dipotong tangan
Di Indonesia,
Koruptor
Dipotong masa tahanan
Kemudian berhanyutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya
Nilai Keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa, pengorbanan,
Tanggung jawab, ketertiban, pengendalian diri,
Remuk berkeping-keping
Akhlak bangsa remuk berkeping-keping
Dari barat sampai ke timur
Berjajar dusta-dusta itulah kini Indonesia
Sogok Menyogok menjadi satu,
Itulah tanah air kita Indonesia
Kami muak dan bosan
Muak dan bosan
Kami
Sudah lama
Kehilangan kepercayaan

berita aslinya disini

3.18.2015

#Mahasiswa

Fahri Hamzah

Apa yang kalian tonton malam ini wahai mahasiswa? 
Jangan sedih...tapi tak mengapa...Sedihlah...tapi jangan gelisah...
Dunia yang berpangku tangan adalah dunia yang sehari lagi menunggu kiamat...

Bacalah kembali momen kita...#Mahasiswa


1908....#Mahasiswa

1928...#Mahasiswa
1998....#Mahasiswa

Dan entah apa lagi....#Mahasiswa

Entah tahun berapa...#Mahasiswa

Angka-angka itu buka deret ukur atau deret hitung...tapi takdir kita. 


Takdir kita karena kita memiliki pendengaran batin...suara langit...#Mahasiswa

Takdir kita karena kita tidak punya kepentingan untuk ditukarkan...#Mahasiswa
Maka waspadalah...

Jadwal kita bukan jadwal politik... 

Maka berhati-hati lah....

Agenda kita bukan transaksi kepentingan..

Kita dipanggil oleh zaman...#Mahasiswa
Kita dibisiki oleh ilham...#Mahasiswa
Kita melaksanakan takdir kita sebagai arus perubahan...#Mahasiswa

Malam ini tidurlah..

Berhentilah menonton perdebatan...
Carilah mimpi yang membuka mata batinmu...

Esok jika kau bangun jadilah besar...jadilah pemimpin orang2 benar..

Agar yang hitam dan batil...kalah. #Mahasiswa
Agar kezaliman musnah...#mahasiswa

Kembalilah ke jalan..

Membawa Pelita...
Kembalilah membawa cinta...
Kali ini hiasilah Kotamu dengan bunga...bawalah kesadaran..

Jangan sebaris dengan barisan kecewa...

Kita akan mengepung dengan cinta...

Bersiap-siagalah! #Mahasiswa

2.17.2015

Ulasan Paling Menarik Terkait BG dan Jokowi



Sebagaimana yang saya bilang kemarin, persoalan sebenarnya yang (sedang) akan dihadapi bangsa ini bukanlah persoalan calon Kapolri. Terlalu “mewah” rasanya menaikkan derajat soalan cakapolri itu ke level tantangan yang (sedang) akan dihadapi bangsa ini. Persoalan cakapolri itu paling banter derajatnya hanya berada pada tataran rumus dasar politik: who gets what, when and how, and by what means. Paling sulit persoalannya adalah: Oh, ternyata lembaga Kepolisian terbawa ke politik praktis, ya? Itu tok. Itu pun bisa dengan mudah dipatahkan, bahwa, Kepolisian tidak main politik praktis. Melainkan, hanya “oknum” Pak Polisi, lebih tepatnya: satu orang Polisi sempat terlibat politik praktis. Itu tok. Tak lebih. Sanksi-nya hanya satu jua: warga (kalau toh tidak bermemori jangka pendek) akan menghukum rezim pelaku pada pemilu berikutnya. Hanya itu. Tak lebih.

Tantangan sejati yang dihadapi bangsa ini lebih daripada sekedar soalan di atas. Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Bangsa besar ini sedang dipimpin oleh orang yang mungkin saja “fit”, tetapi tidak “proper”. Kombinasi ilmu pencitraan dan keberpihakan (terbeli?) sebagian terbesar media-media mainstream telah menghasilkan satu pemimpin “pas” sesuai dengan mentalitas romantik bangsa ini (yang justru mau diperbaiki), namun ternyata belum “layak” untuk mengendalikan arah bangsa dengan penduduk 250 juta orang ini.

Tidak ada keputusan seorang Presiden yang bersifat kecil. Semua keputusan yang dibuat seorang Presiden adalah keputusan besar. Mengapa? Karena keputusan-keputusan itu berdampak pada 250 juta orang yang dipimpinnya. Tiga bulan pertama, dengan ragam keputusan yang sudah kita lihat, semuanya sudah lebih dari cukup untuk menjadi indikator ketaklayakan kepemimpinannya.

Tengok ini: mencungkil subsidi BBM lalu mengembalikannya lagi, meneruskan penominasian calon pimpinan lembaga penegak hukum yang kena sangkaan pelanggaran hukum, tampil dengan level “salesman” pada pertemuan kepala negara tingkat KTT, meluncurkan sekian kartu ajaib yang kemudian tak dapat dijabarkan secara jelas tindak lanjutnya, memilih pabrikan mobil negara tetangga sebagai “guru” pembuatan mobil nasional padahal negaranya sendiri sanggup bikin pesawat terbang.

Ini diperburuk dengan “bunga-bunga” hariannya dalam mengelola Kabinet. Sekian Menteri yang saling bertolakbelakang dalam membuat pernyataan, plus ada Menteri yang secara kasat mata bisa “show-up” sebagai “bos” sang Presiden. Plus lagi, semakin banyak “menu” kampanye yang dijanjikan kepada para pemilihnya sendiri yang diingkari (kabinet ramping, “No” bagi-bagi jabatan, berpihak pada pemberantasan korupsi). Janji-janji itu secara kasat mata diingkari.

Tantangan nyata bangsa ini ke depan adalah: Bagaimana menghadapi era pasar bebas? Ada ancaman besar di sana. Sumber-sumber daya alam negeri ini berada pada tingkat “exposure” tinggi untuk digerayangi bangsa lain secara sah, pada kondisi mana rakyat negeri ini ditempatkan pada posisi “pasrah”. Ibarat calon korban perkosaan, negeri ini hanya bisa bilang: “lakukan, asal bisa nikmat bersama”. Hak asasi diinjak, tapi ikut menikmati.

Pasar Bebas (Free Trade, FT) memang tidak bisa dihindari. Suka atau tidak suka. Sebab, pemainnya ada dan dominan. Yang bisa kita lakukan adalah menari dengan para pemain itu. Menari itu menawarkan keseimbangan. Kadang kita ikut irama partner, kadang si partner yang ikut irama kita.

Presiden RI setelah SBY dalam imaji saya adalah Presiden yang sanggup membuat bangsa kita menjadi penari yang tangguh.

Begini. Adalah hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Konstitusi Negara kita disusun oleh Para Pendiri Bangsa dengan sangat matang. Thank to Jepang, kita diwadahi untuk menyusun platform negara kita sendiri. Kemerdekaan kita (termasuk kehidupannya nanti di masa depan) DISELIDIKI. Di-riset oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indoesia (BPUPKI).

Penyusunan Konstitusi kita dilakukan dalam masa yang sangat dekat dengan (pasca) peristiwa kebangkrutan Amerika Serikat, negara pemain utama FT (Pasar Bebas) saat ini. AS bangkrut di akhir dekade 20-an, berlanjut sepanjang dekade 30-an, dan baru pulih ketika Perang Dunia II terjadi, ketika industri-industrinya bisa bergerak lagi akibat “demand” produksi mesin-mesin perang. Kebangkrutan AS (Great Depression) dirasakan seluruh dunia termasuk Hindia Belanda. Permintaan hasil bumi menurun drastis. Ini dirasakan oleh Para Pendiri Bangsa kita. Mereka menghindari “pola” Konstitusi AS.

Konstitusi AS disusun oleh Para Bapak Bangsa AS dengan latar belakang ingin membebaskan diri dari cengkeraman Mahkota Imperium Inggris. Kombinasinya adalah: nenek moyang bangsa Amerika adalah pendatang di tanah orang. Mereka ingin “bebas” di tanah orang. Para Pendiri Amerika langsung menancapkan landas utama Konstitusi mereka, yaitu: Kebebasan Individu. “We The People”. Kebebasan Individu inilah yang menjadi landas perikehidupan di sana mulai sejak negara itu berdiri sampai sekarang. Apa dampaknya? Individu –bebas- Amerika.

Individu-bebas ini kemudian berkreasi sebebas-bebasnya untuk secara bersama mewujudkan kemakmuran mereka dan anak-cucu. Hak kepemilikan bersifat bebas. Jika Anda menemukan minyak, maka Anda-lah pemiliknya. Silahkan diusahakan sebebasnya untuk kemakmuran Anda dan keluarga. Toh Anda akan mempekerjakan ribuan orang untuk mengambil minyak itu dari perut bumi, mengolah, dan memasarkannya. Minyak bumi itu sendiri akan digunakan masyarakat. Lahirlah Raja Minyak Rockefeller. Jika Anda mampu mengolah bijih besi menjadi baja, silahkan olah dan pasarkan. Ada ribuan orang yang Anda bisa pekerjakan, dan hasil dari baja itu sendiri akan menjadi jembatan, gedung pencakar langit, kapal laut, yang akan digunakan masyarakat. Lahirlah Raja Baja Carneggie. Anda cerdas melihat peluang kain katun keras untuk jadi pakaian para penambang emas, silahkan bikin. Jadilah Levi Strauss. Anda pintar perangkat lunak komputer? Anda jadi Bill Gates dan Steve Jobs. Anda pintar memanfaatkan apa yang dikembangkan Bill dan Steve? Anda jadi pendiri Facebook.

Landas Konstitusi Amerika menawarkan kebebasan penguasaan asset yang berdampak pada hajat hidup orang banyak kepada Individu. Amerika memang berjaya dalam perekonomian sejak mereka merdeka, lalu mereka bangkrut pada akhir dekade 20-an. Kebebasan Individu itu memicu ketamakan. Barang-barang nyata menjadi bahan spekulasi. Orang-orang di sana baik yang pintar maupun yang tidak pintar semuanya jadi pintar jualan “angin”. Akibatnya negara itu bangkrut! Lebih 10 tahun perekonomian Amerika mati suri. Amerika beruntung mendapatkan Roosevelt, Presiden yang mulai memerintah 1932, karena Roosevelt pintar membangun “trust”. Roosevelt bikin uang, lalu menginvestasikan “uang buatan” itu ke dalam proyek-proyek padat karya infrastruktur. Rakyat Amerika “percaya” dengan Dollar buatan itu, lalu ekonomi mulai berputar lagi. Padahal, Dollar “made by” Roosevelt itu semata-mata hanya lembaran-lembaran kertas dan koin yang sebenarnya tak punya kekuatan untuk berdiri berdampingan dengan mata uang negara lain ketika itu. Hanya Perang Dunia-lah yang benar-benar membuat AS keluar dari depresi besar ekonomi mereka. Ketiban order produksi mesin perang, baik untuk keperluan sendiri maupun keperluan Sekutunya.

Para Pendiri Bangsa kita menyadari kelemahan Konstitusi AS itu. Kontras dengan Amerika, mereka menggariskan bahwa Indonesia ini tidak menganut asas kepemilikan kekayaan alam atas nama Individu. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya DIKUASAI oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Apa maknanya bagi kita di masa kini? Besar sekali. Salah satu contoh adalah soal BBM. Jika sepenuhnya sumber-sumber minyak bumi kita berada dalam penguasaan kita sepenuhnya, dan produksinya dialamatkan sepenuhnya untuk kemakmuran kita terlebih dahulu (sebagaimana amanat Konstitusi), maka faktor harga BBM dunia tidak akan merepotkan kita lagi. Sebergejolak apa pun harga minyak dunia, kita akan kuat bertahan karena Negara menguasai minyaknya sendiri dan bisa punya skema pembiayaan (subsidi) apabila harga melonjak. Kondisi sekarang adalah harga BBM kita “mengikuti pasar”. Oh My God. Di mana peran Negara? Kenaikan harga minyak dunia sudah di depan mata (setelah turun bertubi-tubi akibat tarian bersama Amerika-Saudi Arabia).

Itu baru bicara minyak. Kita belum bicara kekayaan alam kita lainnya. Kalau kekayaan alam kita berada sepenuhnya dalam penguasaan kita sendiri, lu mau beli apa juga Negara akan sanggup.

Sekarang kita memasuki era FT. Apa kesiapan kita? Baru seminar dan seminar. Apa daya tawar kita? Adakah daya tawar kita dengan sebagian besar sumber daya alam kita saat ini kita konsesikan ke Negara-negara lain?

Negara-negara lain sudah sangat siap. Sekelompok kerajaan kecil di jazirah Arab yang bersatu menjadi Uni Emirat Arab sudah sangat siap dengan menginvestasikan uang minyaknya ke industri penerbangan, Eropa jauh-jauh hari menyatukan diri menjadi satu kesatuan masyarakat ekonomi, Singapura siap dengan modal sebagai port-hub untuk Asia Tenggara, Amerika memodali petani dengan subsidi besar-besaran (anggaran terbesar AS adalah Departemen Pertanian, bukan Departemen Pertahanan). Tiongkok, jangan tanya dah.

Kita siap apa? Pondasi MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang disiapkan rezim sebelumnya saja di-delete dengan mudahnya. Mobil Nasional bukannya melanjutkan rintisan yang sudah ada, eh, malah diserahkan ke negeri tetangga yang belum tahu bikin pesawat terbang. Jenderal Intelijen pula di belakangnya. Duh... duh.. duhh... apa nggak pernah ikut Lemhanas ini Jenderal??? (sori jadi too personal.... gemesss).

Sadarkah Presiden kita tantangan sebenarnya yang harus dia hadapi? Sanggupkah dia? Pssssttt.... di samping era Free Trade, ada satu Negara besar (AS) yang lagi-lagi bangkrut... kehidupan warganya saat ini terpaksa dibiayai dari uang masa depan.... duit dari masa depan ditarik ke masa kini... karena lagi-lagi Negara itu minus besar. Utangnya telah melebihi PDB. Jumlahnya >15 Trilyun....... Dollar..... Dan Negara itu tidak boleh gagal... kalau gagal, satu bumi ini goyah... karena belasan trilyun dollar itu di dalamnya ada uang orang Jepang, orang Eropa, orang Arab, dan ada orang Indonesia jugah.. Dalam rangka survive, Negara itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup.... mencari keuntungan dari setiap sudut bumi, termasuk dari tanah air kita.

Presiden kita saat ini mungkin saja “fit”. Tapi tidak “proper”.

Dulu ada Capres yang kuat dan bertaring. Tapi, kalian menepisnya.

(Canny Watae)
sumber : http://www.pkspiyungan.org/2015/02/ulasan-paling-menarik-terkait-bg-dan.html#more